ALAM ITU INDAH

ALAM ITU INDAH
SEKALI LAGI BERMULA

Saturday, January 29, 2011

PERGILAH.....

YA ALLAH...ANDAI RASA CEMBURU INI MEMBUTAKAN MATAKU...KAU BAWALAH PERASAAN SAYANG INI PERGI JAUH DARIKU..AGAR AKU TAK KEHILANGAN SEORANG LAGI SAHABAT....MEMANG DAN SEMEMANGNYA AKU AMAT MENYAYANGI DIA..TAPI AKU AMAT MENYEDARI BAHAWA AKU BUKAN SESIAPA UNTUK MENDAPATKAN DIA..AKU TERLALU LEMAH DAN TERLALU KEDIL UNTUK MENDAPAT SEORANG WANITA SESEMPURNA DIA...AKU AKUI BAHAWA AKU SUDAH MULA UNTUK MENYUKAI DIA..TAPI ANDAI SAHABATKU JUGA MENYUKAI PERHIASAN DUNIA INI SAMA SEPERTI AKU..AKU RELA MENGUNDUR DIRI DARI AKU MELUKAKAN PERASAAN SEORANG SAHABAT...KERNA AKU YAKIN BAHWA JODOH, AJAL DAN PERTEMUAN ADALAH KETENTUAN DARIMU...PERGILAH SAYANG DARI HATIKU...BIARLAH AKU SEPERTI DULU...KERNA BAGIKU..KAWAN ADALAH SEGALA-GALANYA........

PAK SUYATNO

Dilihat dari usia beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Masa Pak Suyatno, 58 tahun ke sehariannya diisi dengan merawat isterinya yang sakit. isterinya juga sudah tua. Mereka berkahwin sudah lebih 32 tahun

Mereka dikurniakan 4 orang anak. Disinilah awal cubaan menerpa, setelah isterinya melahirkan anak ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak boleh digerakkan. Hal itu terjadi selama dua tahun.

Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak mampu digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapkan, dan mengangkat isterinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat ke tempat kerja dia meletakkan isterinya di hadapan TV supaya isterinya tidak berasa kesunyian.

Walau isterinya tidak dapat bercakap, tapi dia selalu melihat isterinya tersenyum, dan Pak Suyatno masih berasa beruntung kerana tempat kerjanya tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dia boleh pulang ke rumah untuk menyuapi isterinya makan. Petangnya dia pulang memandikan isterinya, mengganti pakaian, dan selepas maghrib dia temankan isterinya menonton TV sambil bercerita apa sahaja yang dia alami seharian.


Walaupun isterinya hanya mampu memandang (tidak mampu memberikan respon), Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda dan bergurau dengan isterinya setiap kali menjelang tidur.

Rutin ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat isterinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bongsu yang masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Kerana setelah menikah mereka tinggal dengan keluarga masing-masing.

Dan Pak Suyatno tetap merawat ibu kepada anak-anaknya, dan yang dia inginkan hanya satu: semua anaknya berjaya.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata : “Pak kami ingin sekali merawat ibu… Semenjak kami kecil kami melihat bapak merawat ibu dan tidak ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak izinkan kami menjaga ibu.”

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya…

“Sudah yang kali keempat kami mengizinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengizinkannya. Bila bapak akan menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini… Kami sudah tidak sampai hati melihat bapak begini… Kami berjanji akan merawat ibu dengan sebaik-baiknya secara bergantian,” ujar anaknya yang sulung merayu.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anaknya.

“Anak-anakku… Jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan berkahwin lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian…” Sejenak kerongkongannya tersekat… “Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Cuba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?”

“Kalian menginginkan bapak bahagia… Apakah batin bapak dapat bahagia meninggalkan ibumu dalam keadaannya seperti sekarang?”

“Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah kesihatan yang baik dirawat oleh orang lain… Bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno… Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibunya… Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu…

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stesen TV swasta untuk menjadi panel jemputan acara Bimbingan Rohani Selepas subuh dan juru acara pun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno…

“Kenapa bapak mampu bertahan selama 25 tahun merawat Isteri yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa?”

Ketika itu Pak Suyatno pun menangis… Tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum ibu pun tidak mampu menahan haru…

Disitulah Pak Suyatno bercerita… “Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai kerana Allah maka semuanya akan luntur…”

“Saya memilih isteri saya menjadi pendamping hidup saya… Sewaktu dia sihat diapun dengan sabar merawat saya… Mencintai saya dengan sepenuh hati zahir dan batinnya bukan dengan mata kepala semata-mata… Dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu dan baik-baik…”

“Sekarang dia sakit berkorban untuk saya kerana Allah… Dan itu merupakan ujian bagi saya.”

“Sihat pun belum tentu saya mencari penggantinya… Aapalagi dia sakit… Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya mengadu kepada Allah di atas sajadah supaya meringankan penderitaan isteri saya.”

“Dan saya yakin hanya kepada Allah tempat saya mengadukan rahsia dan segala kesukaran saya… kerana DIA maha Mendengar…

Friday, January 21, 2011

Sunday, January 9, 2011

HANYA DIKAU

ASSALAMUALAIKUM SYG....

SEMOGA SYG SIHAT SELALU HENDAKNYA DISANA

Saturday, January 1, 2011

suara

di sini aku masih sendiri
merenungi hari-hari sepi
aku tanpamu, masih tanpamu
bila esok hari datang lagi
ku coba hadapi semua ini
meski tanpamu......meski tanpamu

bila aku dapat bintang yang berpijar
mentari yang tenang bersamaku disini
ku dapat tertawa menangis merenung
di tempat ini aku bertahan

suara dengarkanlah aku
apa kabarnya pujaan hatiku
aku di sini menunggunya
masih berharap di dalam hatinya

kalau ku masih tetap disini
ku lewati semua yang terjadi
aku menunggumu, aku menunggu

suara dengarkanlah aku
apakah aku ada dihatinya
aku di sini menunggunya
masih berharap di dalam hatinya

suara dengarkanlah aku

TRUE LOVE

From the very beginning, gal's family objected strongly on her dating this guy, saying that it
has got to do with family background, & that the gal will have to suffer for the rest of her life
if she were to be with him. Due to family's pressure, the couple quarreled very often. Though
the gal love the guy deeply, she always asked him: "How deep is your love for me?"

As the guy is not good with his words, this often caused the gal to be very upset. With that & the
family's pressure, the gal often vented her anger on him.

As for him, he only endured it in silence.

After a couple of years, the guy finally graduated & decided to further his studies overseas. Before leaving, he proposed to the gal: "I'm not very good with words. But all I know is that I love you. If you allow me, I will take care of you for the rest of my life. As for your family, I'll try my best to talk them
round. Will you marry me?" The gal agreed, & with the guy's determination, the family finally gave in
& agreed to let them get married. So before he left, they got engaged.

The gal went out to the working society, whereas the guy was overseas, continuing his studies.
They sent their love through emails & phone calls. Though it's hard, but both never thought
of giving up. One day, while the gal was on her way to work, she was knocked down by a car that lost control. When she woke up, she saw her parents beside her bed. She realized that she was badly injured.
Seeing her mum crying, she wanted to comfort her. But she realized that all that could come out of
her mouth was just a sigh. She has lost her voice....

The doctors said that the impact on her brain has caused her to lose her voice. Listening to her
parents' comfort, but with nothing coming out from her, she broke down. During the stay in
hospital, besides crying, it's just her silent cry that accompanied her.

Upon reaching home, everything seems to be the same. Except for the ringing tone of the phone.
This pierced her heart every time it rang. She does not wish to let the guy know & not wanting
to be a burden to him, she wrote a letter to him saying that she does not wish to wait any longer.
With that, she sent the engagement ring back to him.

In return, the guy sent millions & millions of replies, countless phone calls; all the gal could do were to cry silently. The parents decided to move away, hoping that she could eventually forget everything & be happy. With a new environment, the gal learned sign language & started a new life. Telling herself
everyday that she must forget the guy.

One day, her friend came & told her that her boyfriend is back. She asked her friend not to let him know what happened to her. Since then, there wasn't any news of him.

A year has passed & her friend came with an envelope containing an invitation for the guy's wedding. The gal was shattered. When she opened the card, she saw her name in it instead. When she was about to ask her friend what's going on, she saw the guy standing in front of her.

He used sign language telling her "I've spent a year's time to learn sign language. Just to let you know that I've not forgotten our promise, let me have the chance to be your voice. I Love You."
With that, he slipped the engagement ring back into her finger. The gal finally smiled.

PUTERI

Puteri

NurArisha menulis "Pandangan mata Puteri kabur tapi dia cuba membuka matanya sedaya mungkin. Puteri yakin tempat yang dia terbaring kini bukanlah rumahnya tetapi sebuah tempat yang asing. Puteri terasa sedih dan keliru dengan apa yang menimpa dirinya.

“Puteri dah sedar?’ satu suara kedengaran di sebelah kanannya.

Puteri berpaling kepada suara itu dan mendapati seorang lelaki berada di sebelahnya. Puteri bangkit cepat dari katilnya.

“Siapa awak? Kenapa awak di sini?” tanya Puteri tegas.

Lelaki itu tersenyum tenang. Entah apa yang dia fikir tentang dirinya.

“Jangan takut. Awak kemalangan tadi. Saya membawa awak ke hospital untuk rawatan”, ujar lelaki itu.

Penjelasan lelaki itu sungguh mengejutkannya. Puteri baru perasan bahawa baju yang dia pakai kini bukan lagi baju kurung tetapi baju bewarna putih yang kebiasaan di pakai kebanyakan pesakit di hospital. Puteri mula keliru dengan apa yang menimpanya. Kakinya terasa berat. Puteri mula berfikir bahawa keadaannya tidak lagi normal.

“Oh Tuhan, apakah dosaku hingga begini yang menimpa diriku.” Luah Puteri di dalam hati.

Air matanya jatuh membasahi pipi. Dia memekup mukanya dengan bantal. Tangisannya tidak tertahan.

“Awak jangan menangis. Saya faham perasaan awak. Saya rasa tidak senang hati melihat awak begini” ujar lelaki itu dengan nada bersalah.
Puteri berpaling kepada lelaki itu. Puteri yakin lelaki itulah yang melanggarnya. Puteri tidak tahu apakah yang harus di ceritakan kepada orang tuanya berkenaan dirinya. Puteri amat kecewa dengan apa yang menimpa dirinya kini.

“Awak pergi dari sini! Saya tidak mahu melihat wajah awak di sini! Pergi!” jerit puteri sekuat hati.

Puteri menangis lagi. Puteri benar-benar tidak dapat menerima hakikat ke atas perkara yang menimpanya kini. Dia tidak pernah terfikir untuk menjadi orang cacat. Lelaki itu amat terkejut dengan tindakan Puteri.

“Awak jangan begini. Saya minta maaf. Please…” rayu lelaki itu kemudian.

Puteri amat benci dengan lelaki itu. Adakah begitu mudah melafazkan maaf bagi seseorang yang memusnahkan masa depan orang lain sepertinya.

“Awak mahu apa dari saya hah! Awak kejam! Pergi dari sini!” jerit Puteri kemudian.

Puteri membaling apa sahaja yang berdekatan dirinya kepada lelaki itu. Hati Puteri amat pedih dan terasa amat terluka dengan sikap lelaki itu. Beberapa jururawat meluru masuk ke dalam bilik rawatan Puteri termasuk seorang doktor. Tubuh Puteri di dakap kuat oleh jururawat tersebut. Puteri terasa amat lemas dan tidak bertenaga. Air mata Puteri mengalir laju.

“Mengapa saya di layan begini? Berdosakah saya memberontak dengan apa yang menimpa diri saya?” bisik Puteri dalam hati

Hatinya terasa jauh. Dia diam tanpa bicara. Hatinya terasa merajuk dengan insan di sekelilingnya.

“Sila bertenang Cik Puteri. Jika awak bersikap begini selalu, saya tidak yakin awak akan sembuh lagi.” Ujar doktor muda itu dengan tegas.

Puteri terkedu.

“Benarkah apa yang saya dengar ini Tuhan? Adakah saya masih berpeluang uintuk sembuh seperti biasa?” bisiknya dalam hati.

Puteri terasa lebih tenang.

“Benarkah doktor?” Soalku mohon kepastian daripada doktor itu.

Doktor itu mengangguk perlahan dan tersenyum tenang. Puteri terasa gelisah dengan cara doktor itu berbicara.

“Benarkah kata-kata itu atau itu cuma kata-kata manis seorang doktor kepada pesakitnya?” Puteri berbisik kecil dalam hatinya.

Puteri amat meragui kata-kata doktor itu namun hatinya bersetuju untuk menerima kata-kata itu daripada dia menolak kata-kata itu. Fikirannya amat bercelaru.

“Saya harap Cik Puteri bertenang. Cik Puteri harus bersyukur kerana masih hidup untuk meneruskan kehidupan ini. Cik Puteri tiba di sini tadi dalam keadaan yang teruk. Cik Puteri kehilangan banyak darah. Kawan lelaki Cik Puteri yang bersama Cik Puteri tadilah yang menderma darahnya kepada Cik Puteri. Dia juga akan menanggung semua kos rawatan Cik Puteri di sini. Saya yakin Cik Puteri dapat sembuh dengan cepat jika bekerjasama dengan pihak kami untuk merawat Cik Puteri. Harap Cik Puteri fikirkan kembali apa yang saya katakan ini” ujar doktor muda itu kemudian dengan panjang lebar.

Lidah Puteri terkelu dengan penjelasan doktor itu. Puteri berkira-kira untuk mempercayai kata-kata itu. Puteri benar-benar berharap apa yang dia dengar itu adalah kebenaran.

“Baiklah. Saya bersetuju dengan apa yang doktor perkatakan.” Balas Puteri kemudian.

Puteri benar-benar berharap dia dapat sembuh seperti biasa. Dia semakin yakin dengan apa yang diperkatakan oleh doktor muda itu.

“Jika demikian, saya pergi dulu. Berehatlah”ujar doktor itu

Doktor dan jururawat itu berlalu pergi meninggalkannya kemudian. Puteri mula berfikir kembali dengan apa yang menimpa dirinya.

“Mampukah saya meneruskan hidup dalam keadaan cacat? Oh Tuhan, janganlah saya dihukum sekejam ini. Berikanlah saya kekuatan untuk berhadapan dengan dugaanMu ini..”bisik Puteri dalam hati

Puteri memejamkan matanya perlahan-lahan. Dia mahu melupakan apa yang terjadi dan menganggap semua ini sebagai suatu mimpi. Mahu rasanya bila dia terjaga lagi selepas ini, dia bukan berada di katil pesakit tetapi di tempat lain.

Assalamualaikum Puteri” suara yang amat dikenalinya kedengaran.

Puteri berpaling kepada suara itu. Puteri mendapati dua orang kawan baiknya berjalan maju menuju ke arahnya. Puteri tersenyum tenang. Puteri gembira dengan kehadiran dua orang kawan baiknya.

“Waalaikumussalam” balas Puteri kemudian.

Kehadiran Sofea dan Diana membuatnya gembira dan dia seakan terlupa sekejap dengan keadaan dirinya yang terlantar.

“Puteri, kami doakan kau cepat sembuh. Kau kena rajin makan ubat. Kau kena cepat sembuh supaya kedua ibu bapa kau kat kampong tidak bimbang dengan kau. saya dah maklumkan pada ibu dan ayah kau tapi saya tidak cakap yang keadaan kau teruk sebab saya yakin hati kau kuat. Kau pasti cepat sembuh” ujar Sofea tenang.

Sofea mengenggam erat tangan Puteri. Dia tidak mahu Puteri patah semangat dengan apa yang menimpanya. Kata-kata Sofea menguatkan lagi semangat Puteri untuk cepat sembuh.

“Terima kasih, Sofea dan Diana. Kau orang berdua memang kawan baik Puteri. Kau orang berdua bersama Puteri di kala Puteri susah dan senang. Puteri bersyukur pada Tuhan kerana pertemukan Puteri dengan kawan baik seperti kau orang berdua” balas Puteri tenang.

Ada nada sayu kedengaran. Puteri amat bersyukur dengan kasih sayang Tuhan kepadanya.

“Oh ya, sebelum terlupa, Diana nak sampaikan salam Bos kepada Puteri. Bos sekarang kat luar negara ada mesyuarat di Jerman. Dia beri cuti dua bulan kepada Puteri. Dia menyampaikan pesanan agar Puteri perlu sembuh cepat sebab banyak kerja di pejabat yang perlu Puteri siapkan. Sekarang ini proposal kerjasama dengan syarikat dari Australia tu Bos beri pada Razman siapkan sementara tunggu Puteri sembuh dan boleh bekerja semula” ujar Diana kemudian.

Kata-kata Diana buat Puteri terfikir-fikir dalam dirinya. Mengapa Razman yang perlu mengambil alih tugasannya. Puteri amat benci pada Razman kerana Razman merupakan seorang rakan sekerja yang sering bercanggah pendapat dengannya. Razman sentiasa memperlekehkan keupayaannya hanya semata-mata kerana idea yang di kemukakan olehnya adalah dari seorang wanita.

“Kenapa Puteri? Engkau fikirkan tentang Razman bukan?” Sofea menyoalku kemudian.

Puteri mengangguk perlahan. Dia tahu Diana dan Sofea memang masak dengan sikapnya yang tidak menyukai cara Razman.

“Sabarlah Puteri. Apa yang penting sekarang ialah Puteri perlu cepat sembuh. Lupakan pasal kerja itu semua dulu. Sekarang ambil masa dua bulan ini dengan tumpu pada kesihatan.” Pesan Diana lembut.

Puteri mengangguk perlahan. Puteri benar-benar mahu melupakan perihal tugasannya di pejabat yang tidak pernah habis. Hampir dua tahun Puteri bertungkus lumus bekerja dengan syarikat Mega Glob-Healthy Berhad. Mungkin kerana itulah dia sentiasa mendapat kepercayaan Bos untuk menguruskan kerjasama besar dengan syarikat luar negara. Mungkin telah tiba masanya untuk dia berehat. Mungkin inilah setiap hikmah yang tersirat di sebalik semua yang terjadi.


*******************************************************

Pagi ini Puteri terjaga awal. Puteri terkejut kerana mendapati seorang lelaki yang tidur di kerusi panjang di dalam bilik rawatan. Puteri tertanya diri samaada dia mengenali lelaki itu. Akhirnya dia pasti lelaki itu adalah orang yang sama dia temui pagi semalam yang berada di sebelahnya semasa terjaga. Puteri mula terfikirkan sesuatu.

Benarkah apa yang diperkatakan doktor semalam bahawa lelaki inilah yang mendermakan darah kepadanya kepadaku malahan orang yang menanggung perbelanjaan rawatanku. Tapi mungkinkah ada orang yang setelus itu? Mungkinkah?” soal Puteri dalam hati.

Puteri cuba menekan butang intercom untuk memanggil jururawat yang boleh membantunya untuk mengambil wuduk untuk solat subuh. Namun, selimut yang meliputi tubuhnya menyekat pergerakannya. Semasa dia cuba menarik selimut, sesuatu telah di tariknya dari sebalik selimut. Puteri mendapati sebuah kotak kecil bewarna biru yang telah dibungkus. Tertulis namanya di atas kotak itu. Puteri terasa ingin tahu apakah yang berada di dalam kotak itu. Puteri membuka pembalut hadiah itu perlahan-lahan dan mendapati sebuah kotak kecil bewarna biru. Puteri membuka kotak itu dan mendapati sepucuk surat bewarna biru di dalam kotak itu. Puteri menariknya dan membuka lipatan surat itu perlahan-lahan.

Dalam hati timbul rasa ingin tahu apabila melihat sesuatu yang istimewa apatah lagi apabila merasakan itu adalah sesuatu anugerah yang bakal menjadi miliknya. Walau pertemuan kita tidak bermula dengan baik, namun dalam hati saya bersyukur pada ALLAH SWT sebab saya dapat kenal seorang wanita yang ketulusannya amat suci. Apabila melihatnya berlari untuk menyelamatkan dua orang kanak-kanak yang melintas jalan raya yang hampir dilanggar kereta tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, saya tertanya dimana mungkin saya dapat temui wanita sepertinya? Mungkin dia tertanya adakah wujud orang yang telus, namun jawapan itu terjawab apabila tiada sebab kita tidak boleh telus jika kita sedar hidup ini kita berharap pada keredhaan Tuhan yang Maha Esa.

Jika semua ini tidak terjadi dalam kehidupan saya, mungkinkah saya dapat menemuinya. Maafkan saya atas kesilapan saya. Tiada terniat untuk saya melukainya apatah lagi hatinya. Melihatnya menangis membuat saya rasa berdosa kerana tidak dapat membuatnya faham hati saya. Sesungguhnya saya hanya mampu berdoa kepadaNYA yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang agar dirinya memaafkan saya. Saya tidak akan berhenti berdoa agar Puteri cepat sembuh. Maafkanlah saya Puteri…..

-Rohan-

Air mata Puteri membasahi pipi. Kini baru Puteri sedar perkara yang sebenarnya. Puteri mengamati wajah lelaki itu. Puteri yakin lelaki itulah yang bernama Rohan. Puteri tidak tahu apakah yang perlu di ucapkan. Puteri rasa amat bersalah kerana terlalu emosi menghalau lelaki itu semalam. Lelaki itu tidak bersalah dengan apa yang menimpa dirinya.

Puteri kembali melihat kakinya yang tidak dapat bergerak lagi. Di dalam hatinya mula berfikir ke atas apa yang menimpa dirinya. Puteri redha dengan ketentuan Allah SWT. Seandainya dia ditakdirkan untuk menjadi cacat, dia redha. Puteri yakin setiap apa yang terjadi ada hikmahnya tersirat dari Allah SWT. Apa yang pasti Puteri tidak akan putus asa untuk meneruskan kehidupan.

Sesuatu terjatuh ke lantai. Puteri terkejut dan cuba melihat apa yang terjatuh.

“Puteri sudah bangun?” Suara lelaki itu kedengaran.

Puteri mendongakkan kepalanya dan berpaling kepada lelaki yang berada di hadapannya. Puteri tidak tahu apa yang perlu diucapkan. Apa yang dia rasa adalah suatu perasaan yang aneh.

“Ya, saya sudah bangun. Maaf sebab menganggu tidur awak.” Puteri menjawab perlahan dengan rasa amat bersalah.

Lelaki itu maju dan berada di hadapan Puteri.

“Puteri tidak menganggu tidur saya, malahan saya bersyukur kerana saya dapat lihat Puteri semakin pulih. Semangat Puteri sangat kuat. Puteri perlu bersungguh-sungguh untuk cepat sembuh. Puteri perlu rajin buat latihan terapi.” Ujar lelaki itu kemudian.

Puteri mengangguk perlahan. Puteri terpandang jam di dinding yang tepat jam 6.40 pagi. Puteri rasa gelisah kerana masih belum menunaikan solat subuh.

“Puteri minta satu pertolongan, boleh?” ujar Puteri kemudian.

Lelaki itu memandang pada Puteri dengan wajah penuh persoalan. Puteri rasa serba salah kerana terpacul soalan itu. Puteri bimbang andai persoalannya boleh memalukan lelaki itu.

“Pertolongan? Saya pasti menolong Puteri. Apakah pertolongan itu?”balas lelaki itu kemudian dengan penuh minat.

Puteri semakin serba salah untuk menyatakan pertolongan itu. Puteri menarik nafas dalam-dalam mencari kekuatan dari dalam dirinya. Puteri benar-benar bimbang sekiranya pertolongannya menyebabkan lelaki itu segan dengan dirinya.

“Puteri minta tolong awak panggilkan jururawat, boleh? Puteri perlukan pertolongan sebab Puteri tidak dapat bergerak untuk mengambil wuduk. Puteri belum menunaikan solat subuh.” Ujar Puteri kemudian

Lelaki itu mengangguk tenang.

“Oh..begitu. Saya terlupa untuk memanggil jururawat. Saya tertidur selepas solat subuh tadi. Saya keluar untuk memanggilnya sekarang.”balas lelaki itu dan berlalu keluar dari pintu.

Puteri terkedu seketika. Pada sangkaannya lelaki itu belum menunaikan solat subuh dan kerana itu dia rasa segan untuk menyuarakan pertolongannya. Entah Kenapa begitu cepat dia bersalah sangka pada lelaki itu. Perkara semalam yang terjadi belum lagi dia memohon maaf. Hari ini pula sekali lagi dia melakukan kesilapan. Puteri rasa kecewa dengan dirinya.

Puteri tertanya dirinya kembali. Apakah kerana dugaan yang kecil ini membuatnya lupa untuk muhasabah dirinya. Puteri terasa berdosa dan bersalah.

Beberapa minit kemudian seorang jururawat datang membantunya mengambil wuduk. Puteri rasa tenang kembali selepas selesai menunaikan solat subuh. Lelaki tadi tidak muncul-muncul lagi sejak dia keluar memanggil jururawat untuknya. Puteri berpaling lagi ke atas sebuah meja berdekatannya. Dia mendapati sebuah kotak sederhana besar. Puteri mencapai kotak itu. Tertulis namanya di atas kotak itu. Puteri yakin hadiah itu mungkin dari orang yang sama iaitu Rohan.

Puteri membuka pembalut hadiah itu dengan perlahan. Puteri terasa sesuatu yang aneh tentang perasaannya. Puteri gembira menerima hadiah itu. Bukan Puteri tidak pernah menerima hadiah dari sesiapa sebelum ini Namun perasaannya kuat mengatakan hadiah itu terlalu istimewa. Puteri seakan merasakan begitu lambat dia membuka kotak itu atau mungkin kerana dia terlalu banyak berfikir.

Puteri melihat sesuatu seolah-olah sebuah buku yang berbalut kain biru. Puteri mengeluarkan buku itu dan membuka kain itu. Puteri terasa terkejut kerana apa yang dia terima merupakan sebuah tafsir al-quran. Puteri teramat gembira dan bersyukur menerima hadiah itu. Puteri teringat pada kata-katanya semasa dia berumur 20 tahun bahawa dia teramat ingin menemui seseorang yang menghadiahkannya sebuah tafsir al-quran. Air mata puteri turun lperlahan. Hatinya terasa sebak. Puteri mula teringat dengan dirinya 5 tahun yang lalu. Puteri dapat rasakan apa yang dia cari dan ingin temui kini semakin hampir dengan dirinya. Puteri terasa amat bersyukur dengan kurniaan Allah SWT.

Sekeping nota terselit di dalam kitab tafsir itu. Puteri menariknya perlahan. Tertulis sesuatu di atas kertas bewarna biru.

Puteri,
Saya yakin saya telah temui seseorang yang saya cari dalam hidup saya. Hati saya kuat mengatakan Puteri merupakan insan yang saya cari. Saya tidak tahu bagaimana harus saya katakan tapi saya yakin Puteri dapat merasai jiwa saya.. Puteri tidak dapat mentafsir saya, namun yakinlah bahawa Al-Quran itu penuh dengan kebenaran. Terimalah kitab tafsir Al-Quran ini sebagai hadiah pertemuan yang Allah SWT aturkan untuk kita. Saya harap Puteri selalu membacanya dan mengamalkannya sekalipun menghadapi kesibukan dengan urusan dunia.. Saya harap Puteri dapat memberi saya jawapan. Sesungguhnya saya bersedia mendengar jawapan daripada Puteri. Saya yakin setiap pertemuan di antara dua insan adalah saling melengkapi. Saya menghormati keputusan Puteri..Saya doakan Puteri cepat sembuh.. Yakinlah pada ketentuan Allah SWT. Saya yakin Puteri pasti dapat berfikir dan menimbangkannya. Saya redha dengan ketentuan Allah SWT. Terus terang saya katakan bahawa saya benar-benar telah menyintai Puteri. Dan percayalah saya menyintai Puteri kerana Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang….

-Rohan-

Air mata Puteri mengalir lagi. Seseorang berjalan menuju ke arahnya. Puteri mendongakkan kepalanya dan melihat lelaki itu berjalan perlahan. Ada sesuatu di tangannya.

“Adakah awak ni Rohan?”Puteri bersoal kemudian.

Lelaki itu memandang wajahnya. Ada ketenangan yang lahir.

“Ya. Sayalah Rohan. Saya berterus terang terhadap Puteri. Segala-gala yang terjadi membuat saya berfikir dan menilai. Saya benar-benar menyintai Puteri. Saya tidak memaksa Puteri. Puteri berhak memutuskan jawapan yang terbaik”balas lelaki itu dengan tenang.

Air mata Puteri mengalir perlahan. Di dalam hatinya terasa satu kesyukuran yang amat kerana Allah SWT telah mempertemukannya dengan apa yang dia cari. Puteri tahu, sejak 5 tahun lalu, perjalanan hidupnya semakin berubah. Puteri yakin ada seseorang yang akan hadir, dan kini Puteri yakin Rohanlah insan yang dia cari selama ini sebagai teman hidupnya.

Puteri mengangguk perlahan. Dia melihat tepat pada wajah tenang Rohan.

“Rohan, Allah SWT banyak memberi jalan pada Puteri. Puteri banyak keliru dengan perjalanan hidup Puteri. Sudikah Rohan membimbing Puteri untuk menjadi isteri yang solehah?” ujar Puteri kemudian

Tergambar kegembiraan di wajah Rohan. Air mata Rohan turut mengalir perlahan. Tangannya menadah ke langit dengan penuh perasaan. Apa yang dirasakan dalam hatinya cuma satu, betapa indah dan agungnya cinta Allah SWT mempertemukan dua insan yang mencari sesorang dalam hidupnya sebagai teman.

Puteri yakin apa yang akan dia lalui pada masa hadapan adalah sesuatu yang sukar ditafsirkan. Namun jika berpegang pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, pasti setiap hamba Allah SWT berada dalam keimanan dan ketakwaan. Air matanya mengalir lagi. Terlalu bersyukur pada Allah SWT.

YA ALLAH


Ya Allah…Ya Rahman…Ya Rahim…
Allah Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cintaku untuk-Mu berkurang
Hingga membuatkanku lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tidak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allah Rabbi Izinkan bila suatu saat aku jatuh hati Pertemukanlah kami Berikanlah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu Allah Rabbi Pintaku yang terakhir adalah seandainya aku jatuh hati Jangan pernah kau palingkan wajah-Mu dariku Anugerahkanlah aku cinta-Mu Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu


Rasulullah S.A.W pula pernah berwasiat, baginda bersabda :
‘Janganlah kalian lalai maka kalian akan melupakan rahmat.’

Kalau ada di lintasan di hati kita untuk berhijrah dari jiwa yang lalai kepada jiwa yang cintakan Allah S.W.T. maka bersegeralah untuk melakukannya kerana percayalah bahawa itu adalah lintasan benar dari Allah S.W.T. Lintasan itu merupakan hidayah yang takkan datang selalu. Jarang–jarang sekali. Biasanya ianya akan disertai keyakinan yang kuat. Namun, kalau kita sering bertangguh, mungkin Allah S.W.T akan tarik balik hidayah–Nya itu. Taufiq dari–Nya bukan milik semua orang. Bukan milik orang yang tak bersedia,” jelas Khazinatul Asrar lagi.